Headlines News :
Home » , » PERANAN AKIDAH 4

PERANAN AKIDAH 4

Written By saleehs gerrard on Monday, June 21, 2010 | 11:30

PERANAN AKIDAH DALAM MEMBINA MANUSIA 4

Sila baca posting yang terdahulu sebelum membaca entry ini.
Peranan Akidah 1
Peranan Akidah 2
Peranan Akidah 3

Poin-poin Pembebasan

Akidah Islam telah berhasil membebaskan manusia melalui beberapa poin di bawah ini:

Pertama, akidah Islam telah berhasil membebaskan manusi dari penindasan politik. Islam tidak merestui seseorang menindas sesamanya atau satu golongan menghina golongan yang lain.

Sepanjang sejarah, Islam adalah faktor utama bagi munculnya gerakan-gerakan kemerdekaan dan kebebasan. Bagaimanapun pandangan seseorang terhadap agama, ia tidak akan dapat melupakan faktor agamis dan pengaruhnya dalam memunculkan kesadaran revolusioner (al-wa’y al-tsauri) sepanjang sejarah Islam. Pemberontakan Abu Dzar r.a. dan revolusi Imam Husein a.s. (terhadap rezim berkuasa kala itu) tidak lain adalah satu titik tolak kesadaran umat untuk meluruskan penyelewengan- penyelewengan yang menimpa sejarah Islam. Betapapun banyaknya penyelewengan yang telah menimpa muslimin sepanjang sejarah, akan tetapi hal itu tidak mampu membasmi semangat revolusioner para pemeluk agama suci ini yang senantiasa berusaha memulihkan kembali agama tersebut (sehingga dapat berkiprah dalam kehidupan sehari-hari) , membasmi kezaliman dan menjunjung tinggi hak-hak dan kehormatan seorang muslim.[11]

Di samping missi pembebasan di atas, akidah Islam juga telah berhasil membebaskan manusia dari kebiasaan menuhankan manusia yang lain, seperti pemujaan dan penyembahan raja dan kabilah-kabilah yang berkuasa. Hal ini adalah sebuah tradisi yang berlaku di kalangan sebagian umat-umat terdahulu, seperti penduduk Mesir kuno.

Begitu juga Islam telah berhasil melenyapkan sistem pembedaan suku umat manusia, baik yang dilandasi dengan keturunan, bahasa, warna kulit, harta atau kekuatan. Tolok ukur keutamaan dalam Islam terbatas pada karakter-karakter spiritual, yaitu taqwa dan fadhilah.

Allah SWT berfirman:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَ أُنْثَى وَ جَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًا وَ قَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ


(Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan wanita, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal).[12]

Islam telah mengumandangkan semboyan kemerdekaan dan kebebasan dua puluh abad sebelum revolusi Perancis muncul.

Amirul Mukminin, Ali a.s. berkata di dalam sebuah khotbahnya:

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ آدَمَ لَمْ يَلِدْ عَبْدًا وَلاَ أَمَةً، وَإِنَّ النَّاسَ كُلَّهُمْ أَحْرَارٌ ...
(Wahai manusia, sesungguhnya Adam tidak melahirkan budak dan sahaya. Dan sesungguhnya seluruh manusia adalah merdeka).[13]

Hanya saja, Islam tidak memberikan kebebasan mutlak kepada manusia. Karena hal itu akan menyebabkan manusia bebas berbuat sesuka hatinya. Islam menentukan batasan-batasan yang jelas bagi kebebasan tersebut sehingga tidak terjadi kekacauan.

Dari sini, tampak jelas perbedaan antara akidah Islam yang mengikat kebebasan manusia dengan penghambaan kepada Allah, tunduk dan taat terhadap kekuasaan-Nya (kebebasan terikat) dan undang-undang hasil rekayasa manusia (al-qanun al-wadl’i) yang (dengan kebebasan mutlak yang diberikan kepadanya) ia telah menjerumuskan manusia ke dalam jurang kebingungan yang tidak sejalan dengan kemampuan dan tuntutan ciptaannya.

Harus ada keseimbangan antara kebebasan dan penghambaan. Dan hal tersebut hanya dapat kita temukan di dalam Islam;penghambaan kepada Allah dan bebas dari penghambaan kepada selain-Nya. (Dalam pandangan Islam), kebebasan seorang hamba tidak mungkin sempurna kecuali dengan penghambaan kepada Allah, dan penghambaannya kepada Allah tidak mungkin sempurna jika ia tidak membebaskan diri dari menghamba kepada selain-Nya.

Dari teori kebebasan semacam ini, terwujudlah keseimbangan dan keserasian antara sisi sosial dan sisi iman seorang muslim.[14]

Dengan ini, akidah Islam menganggap penghambaan kepada Allah SWT semata sebagai inti kebebasan yang hakiki. Hal ini dikarenakan penyembahan kepada Allah adalah pembebasan diri dari seluruh kekuasaan orang-orang lalim. (Dan perlu diingat), penghambaan kepada Allah bukanlah penghinaan bagi harga diri manusia. Akan tetapi sebaliknya, penghambaan tersebut akan lebih memuliakan harga diri dan memelihara kedudukannya.

Rasulullah saww berbangga diri karena beliau adalah hamba Allah dan menolak sikap pengkultusan berlebihan (ghuluw) yang terkadang bisa menjerumuskan seseorang menuhankan beliau, sebagaimana pernah dilakukan oleh Ahli Kitab terhadap para nabi mereka, meskipun Allah telah mengancam mereka untuk tidak mengkultuskan para nabi mereka.

Allah SWT berfirman: “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Almasih Isa, putra Maryam itu adalah utusan Allah, Kalimah-Nya yang Ia anugerahkan kepada Maryam dan ‘ruh’ dari-Nya”.[15]

Sesungguhnya mazhab Ahlul Bayt a.s. dalam rangka memerangi (orang-orang yang) menuhankan manusia, menekankan pentingnya penghambaan (kepada Allah dalam ucapan-ucapan mereka).

Amirul Mukminin a.s. berkata: “Aku adalah hamba Allah dan saudara Rasul-Nya”.[16]

Imam Ridla a.s. juga berkata: “Aku bangga dengan beribadah (menghamba) kepada Allah”.[17]

Hal itu dikarenakan tipe pemikiran semacam itu telah berkembang di kalangan umat-umat yang lain dan berhasil merasuk ke dalam lingkungan para pengikut agama-agama langit yang lain. Sebagai contoh, para pemeluk agama Kristen meyakini Almasih sebagai tuhan dan para pemeluk agama Yahudi menganggap ‘Uzair adalah putra Allah.

Dari sini nampaklah hikmah dan kejituan sikap Imam Ali a.s. ketika beliau menekankan karakter penghambaan dan menentang seluruh propaganda kaum Ghulat yang menuhankan beliau. Dalam sebuah hadis, datang sekelompok kaum mendatangi Amirul Mukminin as seraya berkata:

"اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَبَّنَا"


(Salam sejahtera bagimu, wahai Tuhan kami). Beliau menyuruh mereka supaya bertaubat. Akan tetapi mereka membangkang. Lalu beliau menggali sebuah lobang dan menyalakan api di dalam lobang tersebut. Selanjutnya beliau menggali sebuah lobang lagi di sampingnya dan menyalakan api di dalamnya. Ketika mereka enggan bertaubat, beliau melemparkan mereka ke dalam kedua lobang tersebut hingga mereka mati.[18]

Dalam kesempatan yang lain beliau berkata:
هَلَكَ ِفيَّ رَجُلاَنِ : مُحِبٌّ غَالٍ وَمُبْغِضٌ قَالٍ

(Dua orang celaka ketika menanggapi diriku: orang yang cinta kepadaku secara berlebihan (Ghulat) dan orang yang membenciku). [19]

Kedua, akidah Islam dengan mengikat hati insan muslim dengan tali Allah dan alam akherat, telah berhasil membebaskannya dari jeratan hawa nafsunya.

Hawa nafsu - menurut pandangan Ahlul Bayt a.s. - adalah titik ketergelinciran yang sangat berbahaya. Oleh karena itu, mereka lebih banyak mencurahkan perhatian mereka terhadap satu titik berbahaya ini. Akidah Islam telah membekali akal seorang muslim dengan alat kontrol istimewa yang dapat mencegahnya dari penyelewengan atau lebih mementingkan dunia yang fana atas akherat yang abadi (sebagai akibat dari mengikuti ajakan hawa nafsu).

Atas dasar itu, kita dapati perkataan, hikmah dan nasehat-nasehat Amirul Mukminin a.s. banyak berhubung-an dengan masalah hawa nafsu dan pentingnya kita menguasainya. Beliau selalu aktif menggunakan setiap kesempatan untuk membahas masalah itu, karena hawa nafsu adalah satu poin penting yang harus diperhatikan dalam pembinaan manusia.

Alquran telah mengingatkan kita bahwa “Sesungguh-nya Allah sekali-kali tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan kepada suatu kaum sehingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri”.[20]

Atas dasar ini, satu hal yang menarik kita perhatikan, pada masa pemerintahannya, Imam Ali a.s. senantiasa berwasiat kepada para panglima perang dan gubenur beliau atas daerah-daerah kekuasaannya agar mereka menguasai jiwa dan hawa nafsu mereka. Hal ini selalu beliau lakukan meskipun beliau telah menyeleksi mereka secara cermat, dan mereka adalah pribadi-pribadi ideal yang memiliki budi pekerti luhur dan akhlak yang mulia.

Ketika beliau mengangkat Malik Al-Asytar menjadi gubernur Mesir, beliau berpesan kepadanya dalam sebuah suratnya: “Perintah ini dikeluarkan oleh seorang hamba Allah, Ali bin Abi Thalib untuk Malik bin Harits Al-Asytar... Ia memerintahkannya agar bertakwa kepada Allah SWT dan mentaati-Nya. .. Ia juga memerintahkannya agar mengalahkan hawa nafsunya..., karena hawa nafsu itu selalu mendorong (manusia) untuk mengerjakan kejelekan kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Allah. Kendalikan dan kekanglah hawa nafsumu dari hal-hal yang tidak dihalalkan bagimu. Dan cara untuk mengendalikannya adalah (kamu) harus selalu mengontrolnya agar ia tidak mengerjakan setiap yang disukainya atau enggan mengerjakan setiap yang dibencinya. Dan kasihanilah rakyatmu”.[21]

Di antara wasiat-wasiat Imam Ali a.s. kepada Syuraih bin Hani`, salah seorang komandan pasukan beliau ketika beliau mengirim pasukan perang ke Syam (Syiria): “Ketahuilah, jika kamu tidak bisa mengekang hawa nafsumu dari setiap apa yang kamu sukai karena kamu takut akan terjadi hal-hal yang tidak kamu sukai (jika kamu mengekang hawa nafsumu itu), niscaya hawa nafsu tersebut akan menggiringmu ke arah bahaya yang lebih besar. Oleh karena itu, kekang dan kendalikanlah hawa nafsumu”.[22]

Dalam sebuah surat kepada Mu’awiyah, beliau membongkar rahasia pembelotannya dari kepemimpinan Islam yang disebabkan oleh rayuan dan bujukan hawa nafsunya. Beliau berkata: “Sesungguhnya hawa nafsumu telah memaksamu untuk bertindak jahat dan lalim, menjerumuskanmu ke dalam jurang kebinasaan dan mencemarkan jalan yang kamu tempuh”.[23]

Atas dasar itu, penyelewengan hawa nafsu memiliki resiko besar, khususnya bagi orang-orang yang memegang tampuk kepemimpinan dan mereka tidak memiliki kelayakan untuk itu.

Ahlul Bayt a.s., meskipun mereka memiliki ‘ishmah yang mampu menjaga mereka dari berbuat salah, masih selalu memohon pertolongan dari Allah SWT supaya dapat menguasai hawa nafsu mereka. Hal ini selayaknya kita jadikan pelajaran bagi diri kita. Dalam sebuah doa Imam Zainal Abidin a.s. berkata: “Lemahkanlah kekuatan kami sehingga ia tidak dapat mengerjakan hal-hal yang menyebabkan murka-Mu, dan dalam hal ini, janganlah Kau biarkan hawa nafsu kami mengerjakan setiap yang disukainya. Karena ia akan selalu memilih yang batil, kecuali hawa nafsu yang Kau beri petunjuk, dan memerintahkan kepada kejelekan kecuali hawa nafsu yang Kau karuniai rahmat”.[24]

Kesimpulannya, pembinaan manusia tidak akan sempurna kecuali jika disertai dengan penguasaan atas hawa nafsu. Hali ini akan kita bahas lebih lanjut.

Ketiga, akidah Islam telah berhasil membebaskan manusia dari menyembah alam, mengkultuskan dan takut atas fenomena-fenomena yang terjadi di dalamnya.

Allah SWT berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لاَتَسْجُدُوْا للِشَّمْسِ وَلاَ لِلْقَمَرِ


(Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasan-Nya adalah malam, siang, matahari dan rembulan. Janganlah kamu bersujud kepada matahari dan bulan).[25]

Manusia pernah bingung dan takjub menghadapi fenomena-fenomena alam yang luar biasa ini. Ia tidak mengetahui rahasia yang tersembunyi di balik keluarbiasaan itu. Oleh karena itu, ia mengkultuskannya dan mengajukan binatang-binatang korban yang berlimpah untuknya dengan harapan ia akan aman dari lahar-lahar gunung berapinya yang berkobar, gempanya yang memporak-porandakan (setiap yang terdapat di muka bumi ini), banjirnya yang dahsyat dan petir-petir apinya yang siap menghanguskan (setiap yang disentuhnya) . Maka datanglah akidah menyingkap tabir-tabir yang menyelimuti akalnya dan membuka jalan di hadapannya lebar-lebar supaya ia memfungsikan alam ini semaksimal mungkin dan hidup damai berdampingan dengannya. Dengan ini, nyatalah baginya bahwa alam semesta ini dan segala ciptaan yang ada di dalamnya diciptakan oleh Allah SWT demi kepentingan manusia. Dan tugas utamanya adalah memanfaatkannya dan merenungkan asal-usulnya sehingga dengan cara itu ia dapat menemukan Khaliqnya.

Allah SWT berfirman:
أَفَلاَيَنْظُرُوْنَ إِلَـى اْلإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ | وَإِلَـى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ | وَإِلَـى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ | وَإِلَـى اْلأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ

(Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bagaimana bumi dihamparkan? ).[26]

Perlu diketahui bahwa metode akidah Islam dalam membina manusia adalah metode yang universal dan mencakup semua sisi kehidupan manusia (manhaj syumuli), baik yang berhubungan dengan diri, Tuhan dan alam sekitarnya. Ketika manusia memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhannya, hal itu akan berdampak positif terhadap sikapnya dalam menanggapi alam sekitarnya. Dengan ini ia akan merasa tenang dan tentram hidup di dalamnya.

Ketika kaum Nabi Hud a.s. ditimpa paceklik selama tiga tahun karena pengingkaran mereka atas ajakan beliau, beliau menganjurkan mereka untuk minta ampun kepada Tuhan dan bertaubat kepada-Nya atas dosa-dosa yang pernah mereka lakukan dengan jalan memperbaiki hubungan mereka dengan-Nya. Dengan itu, alam berdamai dengan mereka dan menurunkan hujan dan berkah. Nabi Hud a.s. - seperti disinnyalir oleh Alquran -berkata kepada mereka:
يَاقَوْمِ اسْتَغْفِرُوْا رَبـَّكُمْ ثُمَّ تُوْبُوْا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوُّةً إِلَـى قُوُّتِكُمْ وَلاَتَتَوَلَّوْا مُجْرِمِيْنَ

(Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang sangat deras atasmu dan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa).[27]

Atas dasar ini, ibadah yang sejati hendaknya dilakukan hanya karena Allah semata, dan kita harus takut akan dosa-dosa yang menyebabkan murka dan pembalasan-Nya. Karena Allah ketika murka, Ia dengan mudah akan menggunakan kekuatan alam ini sebagai sarana untuk menyiksa manusia, sebagaimana Ia telah menenggelamkan Fir’aun ke dalam lautan dan mengirim badai yang memporak-porandakan kaum ‘Aad. Begitu juga mayoritas siksaan yang telah menimpa orang-orang kafir terjadi melalui kekuatan alam. Hal ini menunjukkan adanya hubungan timbal balik antara manusia dan alam.

Berkenaan dengan hal di atas Imam Al-Baqir a.s. berkata: “Kami dapatkan dalam kitab Rasulullah saww, `jika mereka enggan membayar zakat, maka tumbuh-tumbuhan, buah-buahan dan tambang akan dicabut dari bumi`”.[28]

Imam Ja’far As-Shadiq, putra beliau a.s. juga pernah berkata:
إِذَا فَشَا الزِّنَا ظَهَرَتِ الزَّلاَزِلَ، وَإِذَا أُمْسِكَتِ الزَّكَاةُ هَلَكَتِ الْمَاشِيَةُ، وَإِذَا جَارَ الْحُكَّامُ فِي الْقَضَاءِ أُمْسِكَ الْقَطْرُ مِنَ السَّمَاءِ


(Jika perzinaan telah memasyarakat, maka akan muncullah gempa dan bencana alam, jika zakat tidak dikeluarkan, niscaya akan binasalah seluruh binatang melata dan bila para penguasa telah berlaku curang dan lalim dalam memutuskan suatu perkara, niscaya air hujan tidak akan turun dari langit).[29]

Ringkasnya, hendaknya manusia hanya takut akan dosa dan kesalahan-kesalahan yang dapat menyebabkan kehancuran masyarakat dan terangkatnya berkah. Adapun jika ia takut terhadap alam dan meyakini bahwa sebagian fenomena-fenomenany a adalah suatu kejelekan yang tidak sesuai dengan aturan alam dan hikmah aturan tersebut, hal ini sebenarnya muncul dari pandangannya yang sempit terhadap masalah-masalah ini. Jika ia memandang peristiwa-peristiwa itu dengan kaca mata undang-undang alam yang universal, niscaya ia akan mengakui bahwa hal itu adalah kebaikan mutlak.

Betul, kali pertama peristiwa-peristiwa itu tampak merugikan. Akan tetapi orang yang mau merenungi peristiwa-peristiwa tersebut, ia akan memahami bahwa peristiwa-peristiwa itu adalah kebaikan dan kemaslahatan mutlak yang sarat dengan hikmah, keadilan dan terjadi atas dasar undang-undang yang jitu. Pembahasan berkenaan dengan hikmah-hikmah musibah dan bala` ini dapat anda telaah lebih cermat lagi dalam ilmu Teologi. Akan tetapi, yang perlu kami tekankan di sini, akidah Islam telah berhasil merubah pandangan manusia terhadap alam sekitarnya, hal yang dapat memberikan kebebasan kepadanya, dan dengan itu ia dapat lebih leluasa berinnteraksi dan bersahabat dengannya.

Keempat, akidah Islam telah berhasil membebaskan manusia dari keyakinan dan perilaku yang sarat dengan cerita-cerita bohong dan tahayul. Hal ini bertujuan untuk membasmi tabir-tabir hayalan yang bersemayam di dalam akalnya yang dapat menonaktifkan fungsi akal tersebut.

Sebagai contoh, penduduk Arab Jahiliah mempercayai nasib baik dan buruk melalui gerakan burung. Ketika mereka melihat burung bergerak menuju ke arah kanan, mereka mulai bekerja dan ketika mereka melihatnya bergerak menuju ke arah kiri, mereka berhenti dari pekerjaan tersebut. Para ahli sihir dan ilmu Nujum, pada saat itu juga menempati posisi terpenting di kalangan masyarakat dan dengan mengaku mengetahui alam ghaib, mereka tega menipu penduduk yang hidup di dalam masyarakat tersebut.

Di samping itu, meramal nasib adalah salah satu kebiasaan yang memegang peranan penting dalam praktek hidup mereka sehari-sehari. Dan kadang-kadang kepercayaan ini menjadikan mereka malas berusaha.

Begitu juga kebiasaan menentukan nasib dengan dengan anak panah (al-istqsaam bil azlaam) adalah salah satu kebiasaan yang diyakini oleh penduduk Arab Jahiliah. Seseorang yang ingin mengerjakan sebuah pekerjaan, ia mengambil tiga anak panah, kemudian ia menulis kata “إِفْعَلْ” (kerjakan) pada anak panah pertama dan kata لاَتَفْعَلْ”“ (jangan kerjakan) pada anak panah yang kedua. Sementara anak panah yang ketiga ia biarkan kosong. Selanjutnya ia merogohkan tangannya untuk mengambil salah satu dari ketiga anak panah tersebut. Jika anak panah pertama yang keluar, ia akan memulai pekerjaannya, jika anak panah kedua yang keluar, ia akan membatalkan pekerjaan tersebut dan jika anak panah ketiga yang keluar, ia mengulangi pemilihan sekali lagi.

Sihir adalah salah satu kebiasaan lain yang juga memasyarakat kala itu. Sihir tersebut digunakan untuk menjaga diri dari kejahatan dan kejelekan.

Di saat kebiasaan-kebiasaan itu menguasai kehidupan masyarakat kala itu, datanglah akidah Islam dan berusaha untuk memerangi kebiasaan-kebiasaan tersebut. Akhirnya akidah itu berhasil membuka akal, menjunjung tinggi jiwa dan mengeluarkan mereka dari jurang gelap hayal menuju dunia ilmu dan realita.

Rasulullah saww bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ وَلاَ مَنْ تُطُيِّرَ لَهُ، أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ، أَوْ سَحَرَ أَوْ سُحِرَ لَهُ

(Tidak termasuk golongan kami orang yang meramal (nasib) dan orang yang minta diramal, orang yang melaksanakan praktek dukun dan orang yang meminta untuk didukuni atau orang yang menggunakan praktek sihir dan orang yang memohon darinya untuk melakukan hal itu demi kepentingannya) .[30]

Dalam kesempatan yang lain beliau juga pernah bersabda:
مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ عَنْ حَاجَتِهِ فَقَدْ أَشْرَكَ


(Barang siapa yang terpenuhi hajatnya karena ramalan, maka ia telah musyrik).[31]

Imam Ash-Shadiq a.s. berkata: “Keampuhan ramalan itu tergantung keyakinanmu terhadapnya. Jika engkau meremehkannya, ia tidak akan berfungsi, dan jika engkau meyakininya, ia akan menguasai hidupmu...”.[32]

Di sisi yang lain, akidah Islam telah berhasil membebaskan akal muslimin dari ramalan-ramalan ahli Nujum. Akidah Islam memandangnya seperti dukun peramal yang mengikat ruang lingkup gerakan manusia dalam hidunya dan memperdaya akalnya.

Abdul Malik bin A’yun berkata kepada Abu Abdillah a.s.: “Saya telah kecanduan dengan ilmu ini - (yang ia maksud adalah ilmu Nujum) -. Ketika aku melihat tanda kejelekan (di langit), aku enggan pergi untuk menyelesaikan keperluanku, dan ketika aku melihat tanda kebaikan (di langit), aku pergi untuk menyelesaikan keperluanku”. Beliau bertanya kepadanya: “Apakah terbuktikan apa (yang engkau sangka itu)?” “Ya”, jawabnya. Selanjutnya beliau berkata: “Bakarlah buku-bukumu (yang berkenaan dengan ilmu Nujum) itu!”[33]

Perlu diingat, mazhab Ahlul Bayt a.s. tidak mencela ilmu Nujum sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan alam yang dengannya manusia dapat mengetahui keagungan langit, dan selanjutnya ia akan memahami kebesaran Penciptanya. Mazhab ini mencela klaim sebagian orang yang mengaku mengetahui alam ghaib dengan ilmu Nujum tersebut.

Sebagai bukti jelas atas usaha Ahlul Bayt a.s. untuk membebaskan manusia dari mempercayai ramalan-ramalan ilmu Nujum yang masih diyakini oleh sebagian orang di abad-abad terakhir ini adalah jawaban Amirul Mukminin a.s. kepada sebagian sahabat beliau. Ketika beliau hendak bergerak untuk memerangi Khawarij, sebagian sahabat dengan bersandarkan kepada ilmu Nujum berkata kepada beliau: “Wahai Amirul Mukminin, jika anda bergerak sekarang, aku takut anda akan gagal”.

Beliau menjawab: “Apakah engkau mengira dapat mengetahui sebuah masa yang jika seseorang mengerjakan sebuah pekerjaan pada masa tersebut, ia akan akan terselamatkan dari segala kejelekan? Dan apakah engkau menyangka dapat mengetahui sebuah masa yang jika seseorang melakukan sebuah pekerjaan pada masa tersebut, ia akan terancam kesengsaraan? Orang yang membenarkan sangkaanmu itu, ia telah membohongkan Alquran dan merasa tidak memerlukan pertolongan Allah lagi dalam menggapai tujuan dan menyingkirkan bahaya”.

Lalu beliau menghadap kepada para sahabat yang ikut serta dalam peperaangan itu seraya berkata: “Wahai manusia, janganlah mempelajari ilmu Nujum kecuali yang dapat anda gunakan untuk mencari petunjuk jalan di daratan atau di lautan ... Bergeraklah dengan nama Allah”.[34]
[11] Dauruddin Fi Hayatil Insan, Syekh Al-Ashifi : 50, Darut Ta’aruf, cet. 2.

[12] Al-Hujurat 49 : 13.

[13] Furu’ul Kafi 8 : 69, Dar Sha’b, cet. 3.

[14] Ma’alim Sakhsiyatil Muslim, Dr. Yahya F. : 79-80, Al-Maktabah Al-’Ashriyah, cet. 1399 H.

[15] An-Nisa` 4 : 171.

[16] Kanzul ‘Ummal 13 : hadis ke 36410.

[17] Biharul Anwar 49 : 129.

[18] Wasailusy Syi’ah 18 : 552, Dar Ihya`ut Turats Al-’Arabi, cet. 5.

[19] Nahjul Balaghah, Shubhi Shalih : 558, Hikmah ke 469.

[20] Al-Anfal 8 : 53.

[21] Nahjul Balaghah, Shubhi Shalih : 427.

[22] Ibid : 447.

[23] Ibid : 390.

[24] Fi Dhilal as-Shahifah as-Sajjadiyah, Syaikh Mughniyah : 100, Darut Ta’aruf, cet. 2.

[25] Fushshilat 41 : 37.

[26] Al-Ghasyiyah 88 : 17-20.

[27] Hud 11 : 52.

[28] Ushulul Kafi 2 : 374/2, kitab al-Iman wal Kufr, Dar Sha’b, cet. 4.

[29] Al-Khisal, Syaikh Shaduq 1-2 : 242, bab al-arba’ah, Jama’ah Al-Mudar-risin, 1403 H.

[30] Kanzul ‘Ummal 10 : 113.

[31] Ibid.

[32] Wasailusy Syi’ah 8 : 262.

[33] Wasailusy Syi’ah 8 : 268.

[34] Nahjul Balaghah, Shubhi Shalih : 105.


Baca sambungan entry selanjutnya.Peranan Akidah 5




Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

wilayah anfield"

WAKTU SEKARANG

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. REZEKI ITU DATANGNYA DARI USAHA YANG IKHLAS. - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger